Kamis, 27 September 2012
Senin, 17 September 2012
LuKiSan InDaH itu :D
Senin, 17 September 2012
Bertolak ke Bandung dari hari sabtu, membuatku semangat akan
datangnya abangku dari Surabaya. Berawal
janjian bertemu dengan kedua abangku itu di Palasari, toko buku yang terkenal
murahnya. Bermodal nekad untuk bisa melangkahkan jejakku di Bandung ini, klo
dlihat dari segi pengalamanjalan di bandung semua rute yang kulewati belum
pernah kucoba sebelumnya. Pas di depan, jalan utama ke Palasari, petugas DAMRI
yang baik hati memberhentikan busnya dgn tepat.
Berjalan
menyusuri keramaian, tengak tengok celegukan kesana kemari menatap pengunjung,
bertanya. “ Sudah adakah kedua abangku itu?” .Rasa khawatir ada mengingat
pertualangan ke Palasari udah pernah sendiri, jadi kuputuskan untuk bertanya
tanya-tanya soal buku di kios pertama
dari arah jalan.Menunggu penjual mencari buku yang ku pinta, mataku menelusi
jalan terlihat sosok abangku kedua M. Haitama,
waliku J
,tersenyum kepadaku. Kusapa dan menyalami keduanya. Membuka obrolan dari hal
yang ringan sampai masalah kuliah, sampai tak terasa kita pun melanjutkan
perjalanan ke Pasar Baru setelah kudapati Ilmu Komunikasi oleh Prof. Drs. Onong
Uchjana Effendy, MA , dekan 2 kali berturut-turut di FIKOM, UNPAD, seharga Rp 25.000,00
.
Ku kira
abangku yang pertama akan ikut bersama kami, ternyata tidak ia punya urusan
yang lebih penting hingga kami sepakat untuk bertemu kembali di mesjid Darut Tauhid.
Mesjid Aa GYM itu. Seperti sebelumnya aku dan abangku kedua memang klop lah klo
dah jalan bareng, dari mulai, bercanda, tertawa, bersakat, sampai uneg-uneg kan.
Menjelajahi Pasar Baru tidak enak yang dikira kami harus jalan lagi dari
mensjid alun-alun kurang lebih 1 km, karenanya juga jalan-jalan ke meseum
Asia-Afrika mengetahui sejarah Indonesia secara real berdasarkan bukti,
menonton GNB secara visualisasidan dokumenter,bahkan sampai ke perpus ku
temukan buku legenda yang telah usang tulisan Prof. Sulistyo Basuki, “Pengantar
Perpustakaan”, Kantor media informasi PIKIRAN RAKYAT, di tambah view bangunan yang konon katanya
peninggalan Belanda. Ke Pasar Baru bukanlah untuk belanja keperluan kami, tapi
untuk sebuah misi, misi untuk menghasilkan uang bagi Mahasiswa. Bermodalkan
kamera ku foto setiap baju yang menarik hatiku. Sepanjang jalan ku berfikir, “Bagaimanakah
selera ibu-ibu itu?”, bimbang, sampai-sampai mungkin hanya lima baju yang ku
foto. Akhirnya kami akhiri juga pertualangan di daerah itu, bertolak ke mesjid
perjanjian, tempat kami menginap. Angkot kelapa-ledeng melesat jauh
meninggalkan hiruk pikuk keramaian di alun-alun itu.
***
Langganan:
Postingan (Atom)
